Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk terdiri atas berbagai suku, budaya, politik, ekonomi maupun agama dan juga di satu sisi merupakan khasanah kekayaan bangsa sekaligus menjadi potensi kekuatan untuk mempersatukan bangsa, namun di sisi lain dapat mengakibatkan munculnya konflik dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah sehubungan adanya kepentingan yang beragam dari masing-masing kelompok yang berbeda.

Keragaman dalam agama dan budaya, toleransi tidak berkembang di kalangan umat beragama maka dapat menimbulkan kerawanan sosial yang pada gilirannya dapat mengakibatkan konflik sosial, termasuk konflik sosial bernuansa agama.

Penyebab utamanya adalah faktor non keagamaan, seperti: politik, ekonomi dan budaya. Seperti halnya kasus konflik di Ambon – Maluku pada pasca runtuhnya rezim Orde Baru di atas, selain akibat dari adanya kondisi distorsi komunikasi dan informasi sistemik, juga akibat dari rentannya masyarakat terhadap aksi provokatif dan politisasi isu agama, etnis dan separatis, hal ini diperkuat oleh beberapa hasil studi dan pemetaan konflik Maluku yang menyebutkan bahwa gerakan bakubae Maluku menetapkan sumber konflik berakar pada konflik elit politik sipil-militer dengan mengeksploitasi dan memolitisasi emosi agama.

Terkait dengan daerah “rawan konflik”, Kementerian Sosial memetakan ada 184 daerah di Indonesia yang rawan terjadi konflik sosial pada 2014. Menurut Sapto Waluyo –Staf Ahli Menteri Sosial Bidang Kehumasan dan Tata kelola Pemerintahan diprediksi “ada enam daerah sebagai wilayah paling rawan konflik sosial pada 2014”. Keenam daerah dimaksud yaitu Papua, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah dan Jawa Tengah.

Nah, terkait problem seperti itu seharusnya dari kalangan masyarakat tersendiri harus peka terhadap sosial dan terutama dalam saling menghargai satu sama lain meski berbeda agama untuk menumbuhkan sikap toleransi tersebut, mengapa perlunya menumbuhkan toleransi dalam sosial?
David Little membagi pengertian toleransi : Pertama, dalam devinisinya yang minimal, yaitu jawaban pada seperangkat kepercayaan, praktik atau atribut yang pada awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima, dengan ketidaksetujuan, tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan”. Kedua, dalam bentuknya yang paling kuat, toleransi dapat didevinisikan sebagai sebuah jawaban kepada seperangkat kepercayaan, praktik atau atribut, yang awalnya dianggap sebagai menyimpang atau tidak bisa diterima, dengan ketidaksetujuan yang disublimasi, tetapi tanpa menggunakan kekuatan atau paksaan. Dengan demikian sikap toleran bukan hanya membutuhkan kesadaran, tetapi juga semangat, gairah, perjuangan dalam bersikap demi hidup bersama yang lebih baik.

Baca juga  Tindakan refresif dan arogansi oknum kepolisian dalam menjalankan tugasnya. Apakah diperbolehkan oleh undang undang ?

Berdasakan beberapa batasan di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud “toleransi” dalam penelitian ini adalah kesediaan menghargai, menghormati dan menerima keberadaan umat beragama lain yang diaktualkan dalam sikap dan perilaku baik perorangan maupun kelompok orang tanpa ada paksaan. Dengan sikap maupun perilaku yang rukun dan damai demi hidup bersama yang lebih baik di antara umat yang berbeda agama di suatu daerah.

Menurut T. Robert Gurr, di dalam kompleksitas motivasi manusia, ”para neurofisiologis menemukan dua sistem hasrat (appetitive system) besar sebagai pembentuk motivasi yang terjadi pada manusia”, Menurut saya kutipan di atas adalah sistem mulus bagaimana membuat bangsa yang solid dan humanis dengan cara bagaimana pola kehidupan bertoleransi dan menghormati perbedaan karna yang di titik tekankan penulis bahwasanya perbedaan adalah kekayaan negri tercinta ini.

*Ahmad Hidayatullah (yeyen)

AS 3

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *