Komisariat Tribakti Bedah Buku Kritik Ideologi Radikal

LP2M.CORONG– Minggu (10/02), Seminar kebangsaan “Bedah Buku Kritik Ideologi Radikal” ini berupaya menjelaskan pada audiens adanya ideologi yang harus diwaspadai. Kerjasama PMII Komisariat Tribakti dengan BEM-I Tribakti ini menghadirkan langsung penulis buku tersebut.

Ar. Hakim Syadzali dan Rif’an Haqiqi bersama timnya Lawang Songo (nama alumni Pesantren Lirboyo angkatan 2019) melihat bahwa realita nuansa agama islam akhir-akhir ini nampak keras dan sensitif. Hal ini mendasari terbitnya buku Kritik Ideologi Radikal.

“Dengan melihat realita bahwa corak islam bernuasa keras akhir-akhir ini mulai populer. Konflik berbau agama khas Timur Tengah sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam negeri, hal tersebut dengan merebaknya ideologi-ideologi ekstrim islam di Indonesia,” tutur Rif’an Haqiqi saat ditemui awak media di Aula Mahrus Aly.

“Untuk langkah berikutnya, dalam menanggapi radikalisme perlu adanya aksi sosial, apa yang harus dilakukan umat, apa yang dilakukan pemerintah, dakwah bil hall nya seperti apa,” tandasnya.

Proses pembuatan buku tersebut dimulai sejak tahun 2017 hingga 2018. Sebagian besar tulisan ini mengambil sumber dari perpustakan Pondok Lirboyo sendiri .

“Dalam pembuatan draf, kami dituntut untuk meneliti dengan seksama ideologi apa saja yang menjadi andalan para ekstrimis. Untuk mengecek dalil-dalil mereka serta membandingkannya dengan para ulama mu’tabar dan tentu saja berhaluan Ahlusunnah Waljama’ah.” Pungkasnya.

Dr. Ahmad Jauhar Fuad Wakil Rektor II selaku pembanding dalam acara tersebut menambahkan perlunya peningkatan terhadap keakuratan data agar lebih kuat.

“Bahwasanya ada beberapa hal yang dirasa perlu ditingkatkan, seperti halnya pengayaaan terkait berbagai data isu-isu radikal oleh praktik-praktik kelompok tertentu.”

Beliau juga mengingatkan pada pembaca terutama mahasiswa agar termotivasi untuk mengkaji dan meningkatkan budaya literasi dalam beragama.

“Kalo santri Madrasah Hidayatul Mubtadi’en (MHM) bisa membuat karya seperti ini, kenapa mahasiswa tidak bisa. Saya yakin mahasiswa punya kapasitas dan kemampuan menulis tinggal mau apa tidaknya, tentu saja dengan pendekatan cara menulis yang berbeda.”

(idh/tys)