31.5 C
Bandar Lor
Selasa, April 16, 2024

Manusia dan Agamanya

Kemanusiaan adalah tema sentral yang dibahas oleh beberapa ahli untuk menuju keadaan yang lebih baik. Pembahasan mengenai kemanusiaan selalu menjadi hal menarik dan menumbuhkan simpatik kepada mereka yang mendengarkan maupun mendiskusikan. Keadaan saat ini menunjukkan bahwa meskipun pembahasan mengenai kemanusiaan semakin meningkat akan tetapi pelanggaran ataupun penindasan terhadap manusia belum juga teratasi bahkan cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kemanusiaan mengharuskan dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan beberapa aspek kehidupan, termasuk juga agama.

Sejarah peradaban manusia sampai era sekarang telah memlihatkan dua kasus besar tentang permasalahan kemanusiaan. Permasalah itu terjadi pada perang dunia pertama dan kedua. Kedua perang tersebut mengakibatkan manusia menjadi dampaknya, seperti banyak yang meninggal, tanah yang tak bisa dihuni, gedung yang rusak, dan lain sebagainya. Permasalah macam itu harapanya dapat menjadi pembelajaran agar tidak terjadi lagi dimasa yang akan datang.

Agama merupakan keniscayaan untuk menata masyarakat kearah yang lebih baik. Agama memberikan petunjuk bagi manusia untuk memilih mana yang baik bagi dirinya dan mana yang buruk baginya. Agama merupakan petunjuk dari tuhan sehingga memiliki kredibelitas yang tidak diragukan. Akan tetapi, ketika agama dijalani masyarakat terkadang malah mejadikan masyarakat terbelenggu dengan penafsiran dogma dogmanya yangb berorientasi negatif. Agama yang seharusnya dijadikan petunjuk bagi manusia menjadi bumerang baginya karena kesalahan kesalahan dalam memahami, melaksanakan, maupun meyebarluaskan.

Baca Juga:  Dilema Ketika Malam Tiba

Muhammad Iqbal merupakan filsuf Islam yang akan kita lirik sebagian pendapatnya yang berkaitan dengan kemanusiaan. Ia adalah orang yang lahir di India, tahun kelahiranya ada beberapa pendapat yang berbeda, yaitu 1873 dan 1877. Ia terlahir dari keluarga Brahmana yang telah memeluk Islam beberapa abad sebelum kelahiranya.

Iqbal memiliki gagasan untuk mengubah masyarakat menuju humanistik dunia baru dengan mengedepankan visi intelektual dan etis. Visi intelektual akan memeberikan pemahaman mengenai keseimbangan, keteguhan, perubahan, memastikan keberlanjutan dan mendukung kinerja masyarakat yang responsif terhadap permasalahan yang ada. Sedangkan Visi etis akan memberikan pemahaman mutlak terhadap keniscayaan hidup atau iman dengan prinsip keadilan dan tanpa dikotomi antara sesama manusia.

Tauhid sebagai Pondasi

Pemikiran Kemanusiaan Iqbal terinspirasi dari Tauhid yang menjadi dasar dari agama Islam. Di dalam Tauhid manusia memliki tiga hal yang bisa difahami dan yang harus dilakukan. Pertama, manusia merupakan ciptaan tuhan yang paling sempurna. Kedua, Tuhan menciptakan manusia tidak sia sia. Ketiga, manusia akan kembali kepada tuhan untuk mempertanggung jawabkan apa yang mereka perbuat. Dari tiga pemahaman tadi menunjukkan bahwa tauhid memiliki nilai nilai kesetaraan, solidaritas dan kebebasan. Ketika nilai tersebut memiliki korelasi yang baik dengan cita cita yang diperjuangkan dalam kemanusiaan.

Baca Juga:  Dinamika Pendidikan Dalam Lingkaran Covid 19

Muhammad Iqbal lalu membagi pengertian Islam menjadi dua. Pertama adalah secara denotatif yang mengartikan Islam sebagai agama yang mengandung nilai nilai yang ideal tentang kemanusiaan. Kedua adalah makna konotatif yang berarti masyarakat Islam dan kehidupan prakteknya. Dari sini Iqbal sebenarnya memberikan  menyarankan kepada masyarat kepada Masyarakat untuk melakukan penafsiran dan mengimplementasikan nilai nilai denotatif yang terdapat pada agama Islam terhadap konotatifnya dalam kerangka kemanusiaan. Maka ketika manusia dapat menafsirkan dan melaksanakan ketiga pemahaman tentang dasar tauhid akan membuat kemaslahatan bagi kemanusiaan itu sendiri.

Dari ketiga pemahama tauhid diatas maka diketuhi juga nilai-nilai kemanusian menurut Iqbal, yaitu sikap mempertahankan individualitas manusia dan menganggap tujuan tertinggi manusia adalah menghidupkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya. Kemanusian Iqbal menempatkan manusia sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, namun tetap dalam rangka mendekatkan diri dengan Tuhan dan bertindak selaku insan kamil yang berfungsi sebagai  wakil Tuhan di bumi.

Baca Juga:  Benih-benih Pendekar Pena Mulai Bermunculan

Pemahaman Iqbal diatas menggambarkan bahwa dalam beregama manusia seharusya akan menumbuhkan nilai nilai positif dalam kemanusiaan. Kesetaraan antara sesama makhluk misalnya menjadi nilai penting dalam beragama. Kesetaraan ini bukan hanya sekedar menganggap manusia bukan sebagai tuhan, tetapi juga dalam berperilaku, berkehendak dan berbuat manusia memiliki otonomi tersendiri yang harus dihargai oleh sesama manusia. Hal ini menggambarkan bahwa akal sebagai alat yang dimiliki oleh manusia menjadi perkara yang penting. Manusia bukan juga sebagai makhluk otomatis yang sudah ditetapkan programnya dari tuhan atau manusai itu sendiri. Namun disini Iqbal juga memberikan pemahaman bahwa dengan otonominya bukan berarti manusia memiliki kehendak mutlak sebagai mana pandangan humanisme radikal. manusia dengan otonomi yang dimilikinya merupakan perkara yang harus diorientasikan pada pendekatan diri pada Tuhan. Maksutnya manusia sebagai makhluk yang diciptakan terbaik oleh Tuhan harus memanfaatkan keadaanya sebagai wakil tuhan untuk memeberikan kebaiakan kepada sekitarnta dengan tujuan untuk kembali kedapa Tuhan.

Penulis : Sokhikhul Fahmi AL Qoyyid Mahasiswa KPI Tribakti

Editor : Afwan

Mungkin Terlewat

Stay Connected

15,334FansSuka
1,332PengikutMengikuti
7,578PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Trending