31.5 C
Bandar Lor
Selasa, April 16, 2024

Refleksi Renovasi Kedesaan Kita

Bayangkan! pagi hari setelah bangun tidur kita bisa berolahraga mengelilingi kampung dengan menikmati pemandangan yang indah, itu akan menjadi aktivitas yang menyenangkan bukan. Apalagi didukung dengan kampung yang bersih, asri dan ramah. Pasti hal ini menjadi pengalaman yang indah ketika bisa dilaksanakan. Tetepi kampung saat ini menuntut penduduknya untuk melakukan aktifitas yang berbeda, kampung menjadi padat pemukiman, sampah berserakan, dan beberapa permasalahan yang lain. Bisa jadi permasalahan ini dapat terjadi karena beberapa struktur dari berbagai unsur. Salah satunya adalah dari oknum pemerintah yang memiliki kewenangan untuk menata dan membangun sebuah kampung tetapi malah membangun rumahnya sendiri. Padahal ketika menggunakan haknya dengan bijak maka dapat membuat kebijakan untuk mewujudkan kampung yang diidamkan.

Kampung atau desa secara administratif adalah wilayah yang berada dibawah kecamatan. Di Indonesia terdapat kurang lebih delapan puluh ribu desa yang tersebar dalam tiga puluh delapan provinsi. Desa ini dikelola oleh pemerintah desa dan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan secara optimal. Pengelolaan ini idealnya berfokus  pada pengembangan untuk kesejahteraan desa setempat bukan pada sebagaian elit yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ketika bisa terlaksana dengan baik maka kampung idaman masyarakat itu akan mungkin terwujudkan, bukan kampung yang dipenuhi dengan polusi, sampah dan limbah. Pemerintah sebagai bagian masyarakat yang berkewajiban memformulasikan hal ini telah melakukan berbagai cara untuk melakukan perbaikan.

Baca Juga:  Hikmah Dibalik Kontroversi Kata Kafir vs Mawāṭīn

Data pembangunan desa

Salah satunya adalah dengan membuat kebijakan yang sesuai dengan desa melalui data. Data ini cukup penting bagi pembuat kebijakan karena akan menjadi patokan yang selanjutnya dilaksanakan oleh berbagai kalangan, data terkait pembangunan desa ini disediakan salah satunya oleh lembaga IDM (Indeks Desa Membangun) dan yang akan terus melakukan pembaruan agar memiliki keakuratan. Dalam data tersebut desa di Indonesia dinilai dari tiga sudut pandang sebagai penentu apakah desa tersebut merupakan desa yang maju atau tertinggal. tiga indikator tersebut adalah sosial, kesehatan, dan lingkungan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa desa yang maju atau mandiri adalah desa yang dapat tumbuh dan memenuhi kebutuhanya sendiri. Sedangkan desa yang termasuk dibawah golongan maju dan mandiri adalah desa yang belum bisa memenuhi kebutuhanya sendiri.

Dari data IDM tersebut kita dapat mengetahui bahwa ternyata di Indonesia pada tahun 2022 terdapat beberapa desa yang termasuk kategori maju. Diantaranya sepuluh terdepan adalah Desa Peliatan Gianyar Bali, Desa Panjalu Ciamis Jawa Barat, Desa Gentengkulon Banyuwangi Jawa Timur, Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu Jawa Timur, Desa Sidomulyo Kota Batu Jawa Timur, Desa Ubung Kaja Denpasar Bali, Desa Merkawang Tuban Jawa Timur, Desa Mengwitani Badung Bali, Desa Lengkong Bandung Jawa Barat, Desa Gentengwetan Banyuwangi Jawa Timur. Selanjutnya  pada tahun 2024 jumlah desa yang berstatus maju dan mandiri ini ternyata mengalami peningkatan. Diantara sepuluh teratas adalah Jawa Timur Banyuwangi Genteng, Jawa Timur Kota Batu, Bali Denpasar Selatan, Bali Badung Kuta Utara, Daerah Istimewa Yogyakarta Sleman Depok, Jambi Sungai Penuh, Jawa Timur Sidoarjo Waru, Jawa Barat Purwakarta Bungursari, Jawa Timur Banyuwangi Gambiran, Daerah Istimewa Yogyakarta Sleman Kalasan.

Baca Juga:  Lingkungan Sosial, Kemiskinan dan Ketimpangan

Dari sekian banyak tempat yang disebutkan diatas, tempat yang cukup menonjol adalah Batu Malang dan Denpasar Bali. Kedua tempat ini menjadi tempat yang digolongkan maju karena dapat memenuhi kebutuhanya sendiri. Jika dilihat keadaan kedua desa ini, keduanya memiliki ciri khas yang melekat dalam segi perekonomianya, yaitu pariwisata. Kedua tempat ini kerap menjadi tempat kunjungan beberapa orang yang akan melakukan liburan. Bahkan, mereka yang melakukan liburan disini tak terbatas hanya masyarakat lokal tetapi juga dari beberapa negara selain Indonesia. Di Bali turis yang berkunjung pada tahun 2023 mencapai lebih dari 4 juta sedangkan wisatawan lokal yang berkunjung lebih dari 8 juta. Sedankan di kota Batu pengunjung yang liburan pada tahun 2022 mencapai lebih dati 7 juta. Sehingga dari banyaknya pengunjung ke desa dapat meningkatkan pendapatan desa dan masyarakatnya. Namun disisi lain, terdapat juga data yang menunjukkan keadaan tidak menguntungkannya, bahwa terdapat beberapa permasalahan yang ada didalam kedua tempat ini.

Baca Juga:  Aspek-aspek Bekerja Dalam Perspektif Islam

Desa dan permasalahanya

Dengan melihat sebagai desa yang maju maka akan membayangkan pada kondisi desa yang nyaman, asri dan ramah. Akan tetapi, seperti di Batu Malang contohnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di tempat ini ternyata belum mampu menurunkan golongan warga miskin ekstrem secara signifikan. Dari jumlah penduduk 214 ribu jiwa, angka warga miskin ekstrem di Kota Batu masih 8 ribu lebih.sehingga kesejahteraan yang seharusnya dirasakan oleh seluruh masyarakat masih dirasakan oleh sebagianya. Selain itu, permasalahan sampah yang mencuak beberapa waktu lalu di media, yaitu tentang TPA Tlekung Batu Malang yang mengganggu warga yang berada disekitarnya. Contoh lain di Denpasar Bali terdapat permasalahan sampah di TPA Suwung yang menjadi permasalahan berlarut-larut.

Pembangunan desa merupakan hal yang harus diperjuangkan oleh berbagai pihak, terutama pihak pemerintah yang memiliki tanggungjawab lebih. Saat ini Indonesia memiliki cita cita untuk menuju keeemasanya tahun 2045 maka dari itu harus didukung dari segala faktor, termasuk tempat rakyat tinggal yang akan memeberikan kenyamanan bagi masyarakat. Sehingga tujuan bersama dari seluruh rakyat yakni terciptanya kesejahteraan dapat tercapai.

Penlulis : Sokhikhul Fahmi AL Qoyyid

Editor : Afwan

Mungkin Terlewat

Stay Connected

15,334FansSuka
1,332PengikutMengikuti
7,578PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Trending