LP2M CORONG, Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri menyelenggarakan acara yudisium ke-51. Acara yudisium tersebut dilaksanakan pada hari sabtu, 14/10/17 yang bertempat di aula muktamar Lirboyo.

Acara yudisium diawali dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan tim paduan suara menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Tribakti dan terakhir lagu Ya lal wathon yang diikuti oleh seluruh peserta yudisium dan tamu undangan.

Rektor IAIT “Tribakti didirikan atas keprihatinan kyai-kyai salah satunya orang tua saya, KH. Mahrus Aly. Untuk bagaimana santri itu berkiprah, santri punya amal, ilmu, akhlak dan punya segala-galanya. Punya ketegasan spiritual, intelektual dan keterampilan. Jadi bagaimana orang tua saya itu membangun dan menggabungkan kecerdasan intelektual dan agama” Dawuh KH. Kafa Bihi Mahrus dalam sambutannya.

Turut hadir juga pada yudisium ke-51 tahun ini wakil gubernur jawa timur. Gus ipul yang menyampaikan orasi ilmiah di depan seluruh peserta. Pada tahun ini  di ikuti 533 seluruh peserta yudisium yang terdiri dari 464 sarjana strata 1 (S1) dan 69 dari program pasca sarjana.

Yudisium kali ini sangat unik dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang pertama berbeda dalam hal urutan nama fakultas di banner, di awali dengan fakultas dakwah, syariah, tarbiyah lalu program pasca sarjana, tidak harus fakultas tarbiyah yang di awal. Tapi, ini sesuatu yang unik dan tidak biasa.

Perbedaan yang kedua dalam hal seragam, yang pada tahun ini peserta yudisium di anjurkan menggunakan kemeja putih bercelana hitam, sedangkan pada tahun- tahun sebelumnya peserta yudisium tidak dianjurkan berkemaja putih. Menurut ketua pelaksana yudisium “  mengenai hasil rapat panitia sepakat untuk menyeragamkan pakaian peserta yudisium agar terlihat serempak.”  Tutur Bapak Arif Khoiruddin.

Baca juga  Open Rekrutmen Anggota Baru

Sementara dari beberapa peserta ada yang tidak setuju mengenai penyeragaman tersebut. “ Menurut saya lebih baik menggunakan batik daripada menggunakan hitam putih karna sama halnya seperti opak”. Ujar Fajar Maulana sebagai peserta yudisium.

Wartawan: Nilufarul Azzah & Nurul Amalia

Kiriman serupa