30.4 C
Bandar Lor
Sabtu, April 13, 2024

Keterbatasan Tak Menghambat Produksi Masker Dari Bahan Tenun

Lp2m.Corong-Sejak bulan April 2020, wabah virus Corona atau akrab disapa Covid-19, melanda salah satu kota kecil bagian provinsi Jawa Timur, berdampak atas perekonomian masyarakat sekitar.

 

Sumber dari: kediri apik. Com

Dampak tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar, terutama dalam sektor kuliner, wisata dan lain-lain, bahkan yang lebih miris banyaknya angka PHK karyawan dari perusahaan juga terkena dampak wabah ini.

banyak pedagang yang mengeluh atas kondisi sepi pembeli atau pengunjung, lain lagi konsumen yang mayoritas pelajar perlahan kembali ke kampung halaman.

Tak jarang, ketika menelusuri sepanjang jalan kota kediri, beberapa stand, toko dan ruko mulai tutup satu persatu, bahkan banyak tempat usaha mereka yang tokonya terpaksa kontraknya diteruskan orang lain, kadang ada yang terpaksa gulung tikar.

Sardi (44) salah satu pedagang nasi goreng yang terpaksa menutup usahanya, biasanya mangkal di daerah bandar lor, Sardi sangat merasakan dampak dari covid-19.

Menurutnya “saya salah satu pedagang yang juga terkena dampak, hal yang dirasakan ketika anak saya sekolahnya daring, itupun butuh HP dan kuota buat sekolah, iyya itu kalo dibuat belajar semisal dibuat main game di HP gimana? “, Tuturnya kamis (18/06).

Baca Juga:  Berhasil Membawa Nuansa Pengetahuan Baru, Dialog Interaktif Sekolah Alam Ramdhani Jabarkan Teori Aplikatif

Namun di tengah-tengah merosotnya perekonomian masyarakat kota Kediri, terdapat angin segar berhembus di sektor pengrajin tenun.

Selain Tahu Takwa dibidang kuliner, Pondok Pesantren Lirboyo dibidang pendidikan dan monumen Simpang Lima Gumul (SLG). Tenun pun merupakan Icon dari Kota Kediri yang bertahan dari dekade terakhir.

Tenun ikat khas Kediri ini banyak peminat, baik dari dalam kota maupun luar kota, produk dari bahan Tenun ini sangat bervariasi, mulai dari baju, celana, kebaya dan lain-lain, bahkan masker pun dari bahan Tenun ikat.

Salah satu perempuan tuna rungu yang akrab disapa Mbak Yuyun membuat trobosan baru, yaitu membuat masker dari kain tenun, awal pembuatan masker bermula dari keisengan dan memanfaatkan sisa kain tenun ikat yang tidak bisa diproduksi menjadi produk.
Dari bahan olahan kain tenun menjadi masker, terdapat dua jenis yaitu: masker polos dan masker khusus tuna rungu, menurutnya masker yang khusu dibuat untuk tuna rungu bertujuan untuk memudahkan berkomunikasi menggunakan gerak bibir.

Baca Juga:  Semarak Wisuda 51 Tribakti "Wisuda Hanyalah Sebuah Permulaan"

Menurut ulasan kediri apik.com. Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Cabang Kediri memproduksi masker dari bahan kain tenun ikat. Sebuah upaya agar tetap eksis di tengah guncangan perekonomian yang melanda. “Produksinya sudah dua pekan ini,” kata Bu Yuyun, Ketua Gerkatin Jawa Timur, Sabtu (18/4/2020).

Belakangan ini, pesanan mulai banjir berdatangan. Sehingga, dia tak mampu lagi memanfaatkan bahan sisa olahan, mau tak mau harus membeli bahan Tenun ikat.

Dalam hal kualitas, menjamin kualitas yang sangat bagus. Mbak Yuyun memiliki usaha konveksi yang skalanya cukup besar.
Standar kualitasnya tinggi itu dibantu 7 orang, rata2 satu orang bisa memproduksi 20-30 masker perharinya.

“Alhamdulillah, sudah ada pesanan dari Pegadaian Bojonegoro dan Madiun. Belum banyak sih, baru 30 lusin,” lanjut wanita yang akrab dipanggil Mbak Yuyun ini.

Angin segar pun turut datang dari Pemerintah Kota Kediri yg turut menunjukkan dukungan. Ada stimulan bagi pelaku usaha kreatif ini. Pemkot memesan ribuan masker tenun ikat. Ini menjadi sesuatu yang khas dari Kota kediri.

Baca Juga:  RAKER Gabungan, Guna Persiapan dan Penataan Jadwal Agenda RKM Semester Genap

Tak sampai disitu, kini pemesanan bisa langsung order lewat mbak yuyun ataupun lewat aplikasi, bisa lewat Shopee dan juga Tokopedia.

“Bu Wali sempat mau pesan APD dan masker, tapi belum pasti berapa jumlahnya. Mudah-mudahan segera ada kepastian pesanan dari Pemkot ya, nanti akan saya prioritaskan pembuatannya,”harapnya.

Dalam masalah harga, Mbak Yuyun mematok harga Rp7 ribu hingga Rp10 ribu. Tergantung variasi bentuk model dan tambahan spon pada maskernya.

Yuyun mengaku bahwa alasannya membuat masker bukan hanya mumpung mumpung ada momen ajah, tapi lebih pada kemanusiaan.

”Kami tidak ingin hanya menjadi beban pemerintah saja, tapi kami juga ingin berpartisipasi membantu Pemerintah.

Di samping itu dengan usaha ini saya tetap bisa membantu teman-teman disabilitas,” pungkasnya.

 

 

 

Raport: yeyen

Editor:  Redaksi LP2M Corong

Mungkin Terlewat

Stay Connected

15,334FansSuka
1,332PengikutMengikuti
7,578PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Trending