Seketika ku terkejut mendengar suara jam wekker yang sedari tadi tak henti – hentinya bergeming, ku raih jam tersebut dan ku matikan, yang akhirnya mau tak mau harus terbangun dari mimpi yang sebenarnya menghampa untukku. Ku langkahkan kaki tuk membersihkan jasmani, ku raih sajadah dan ku gelar, sesaat termenung merenungi kegundahan hati yang tak kunjung berhenti.

Ku buka tabir jendela memandang fajar menghirup segar udara bertabur embun di penjuru taman, Burung – burung tak mau kalah bangu pagi, seakan bersorak sorai menyambut hari baru. Di tengah santai nya ku nikmati fajar,seketika tersentak oleh suara Ibu yang sedari tadi setia menunggu di meja makan menjajakan masakan terbaiknya pada seluruh anggota keluarga, berorasi bak tukang sayur yang menjajakan dagangannya, aku tergopoh lemas menghampirinya, belum berkenan meninggalkan fajar oranye yang menghipnotis pandangan ku. Di meja makan sudah bersanding ka Alby yang selalu stand by, ia terlihat cuek melihatku seperti biasanya, ia hanya mengisyaratkan ku agar cepat memakan hidangan, entah mengapa kakakku jarang sekali bicara, selalu menggunakan isyarat, tak ayal jika diantara kami saling salah paham yang akhirnya aku lebih memilih mengalah, karena alasan ku selalu di pikir tak logis oleh kakak, entahlah.

“Ayo nak sarapan dulu ! kau ini mau kuliah bukan?” Kalimat pembuka dari Ibu

“Hmmm…” pikirku sejenak

“Kenapa ko malah diam toh?” Tegur Ibu

“Ini loh bu, hari ini gk ada kuliah tapi Fira mengajakku pergi, entah kemana?”

“Awas tuh, hati – hati sama pergaulan anak muda” Ka Alby parno

“Yaelah ka, tau kali Vina juga milih – milih”

“Tau mau diajak kemana?” Introgasi Ka Alby

“Ya engga sih, lagian kalo aku nanya dia gk ngasih tau, Surprice katanya” Tukasku

“Kau ini mudah sekali percaya” Lirih Ka Alby

“Hey sudah lah, Ibu percaya Fira anak baik – baik By” Bela Ibu

Aku tersenyum merasa Ibu lebih percaya padaku dan berhasil membuat Ka Alby diam, kemudian ayah datang dan duduk tepat di sebelah terlihat kebingungan melihat ekspresi kami, berulang kali menanyakan namun tak di gubris oleh Ibu, hanya menyuruh kami untuk segera melahapnya. Pagi ini kami sarapan nasi goreng di tambah telur yang harumnya sangat menggoda cacing – cacing di dalam perut, di pertengahan kami bumbui dengan perbincangan ringan ala kadarnya, ku lahap hidangan yang di berikan ibu hingga tak bersisa sedikitpun.

Tak berapa lama Fira datang menghampiri, mengajakku untuk menjelajah kota yang selama ini tak ada rasa ketertarikan utuk hal itu. Wajar saja kalau temanku yang satu ini selalu tertarik dengan seni dan budaya nusantara, karena dia anak seni yang menurutku adalah peseni sejati, hampir semua ia ketahui tentang budaya nusantara tercinta ini, berbeda dengan ku yang acuh akan semua itu, fokus ku karir tak peduli akan sekitar, pada akhirnya Fira membaca itu tentangku, perlahan ia menceritakan tentang budaya yang ia ketahui padaku, aku masih tak perduli, lalu ia mengajakku untuk pergi ke tempat dimana penuh dengan seni macam sanggar tari, aku menolak karena aku tipe orang yang enggan berbaur dengan hal yang menurutku tak akan berdampak untuk ku. Tepatnya malam tadi, ia mengatakan padaku tentang tujuan apa yang ku cari, dengan polosnya aku mengatakan tentang karier dimasa depan, ia tertawa, entah apa yang lucu aku masih berfikir

Baca juga  Membunyikan Seni Untuk Tanah Papua

“Kalau kau Cuma pikirkan hidup mu, tak ada dampaknya untuk sekitar, apa gunanya?”

Kalimat itu yang selalu terngiang dalam pikiranku, hingga akhirnya pagi ini ia memaksaku untuk ikut bersamanya, saat ku tanya akan kau bawa kemana ragaku ini, ia hanya jawab “Surprice” menjengkelkan memang, tapi apa salah nya jika ku ikut? Yang kebetulan tak ada jam kuliah, izinlah aku pada ibu untuk pergi bersama Fira, Ibu mengiyakan, entah mengapa izin pada orang tua adalah kebiasaan yang tak bisa ku hilangkan.

Fira memboncengku dengan motor matic nya, ia pacu dengan kecepatan yang cukup membuat jilbabku menari – nari kencang, setelah sekian lama perjalanan, tibalah kami pada tempat yang di penuhi dengan berbagai pameran lukisan bercita rasa seni juga terdapat beberapa anak yang memakai kostum yang sepertinya terlihat macam kostum para penari, aku bingung bukan kepalang, apa maksudnya ini? Perlahan ku amati sekitar dengan tetap bingung tentunya, di saat kebingungan seperti ini Fira justru meinggalkanku entah kemana, mau tak mau aku ikuti permainan Fira, perlahan ku tengok beberapa lukisan – lukisan yang ada menikmati keidahan yang selama ini aku tak mengetahuiya, di sadari atau tidak rupanya aku mulai terpanah melihat dengan takjub akan kesadaran budaya yang mereka lakukan, seketika Fira datang hanya tersenyum melihat ekspresiku yang membelalakan mata tanpa mengatakan apapun, ya karena ini adalah pengalaman pertamaku bertemu dengan situasi di zona yang penuh akan kesenian ini, yang menurutku sangat asing, seketika aku mematung hingga aku sadar Fira memanggilku

“Gimana?” Pertanyaan Fira membuyarkanku

“Ya begitulah, yah aku memang terlambat menyadari betapa kayanya Bumi Pertiwi ini” ucapku dengan rasa malu

“Lah ia kamu tuh terlambat banget, gk bisa nikmatin perjalanan kami selama ini, walaupun kamu anak psikolog ya otomatis bukan aak seni gitu yah, tapi apa salahnya sih mengetahui dan cinta terhadap seni, gii loh ya sekarang tuh banyak loh yang gak sadar kalo sebenarnya seni itu memiliki nilai yag sangat luar biasa, bukan hanya estika tapi jati diri sebuah bangsa”

“Baiklah kau berhasil membuat ku terkejut, kini ceritakan padaku salah satu seni yang sekarang ku lihat ini!”

“Baiklah kau tau itu apa?” tunjuk Fira pada seorang anak yang mengenakan topeng

“Tentu aku tau itu, tari topeng bukan?, aku menebaknya karena ia pakai topeng” Jawabku dengan sedikit tertawa yang sebenarnya tawa itu mengisyaratkan rasa malu mengenai dangkalnya pengetahuanku

Baca juga  Benih-benih Pendekar Pena Mulai Bermunculan

“Nah betul sekali itu, walau kau tak suka tapi setidaknya kau kenalilah dulu! baiklah akan ku ceritakan, jadi begini Tari Topeng merupakan salah satu tarian tradisional di daerah Cirebon, Jawa Barat. Menurut beberapa seniman, pada masa penyebaran agama Islam tarian ini muncul dan di kenalkan oleh Sunan Gunung Jati yang selama ini kita kenal sebagai salah satu tokoh wali Songo,di jadikan sebagai salah satu media dakwah. Properti utama yang di kenakannya tentu saja topeng, karena itu pula pada akhirnya masyarakat memanggilnya dengan sebutan Tari Topeng. Selain itu Tari topeng juga memiliki lima jenis topeng, pertama bernama panji yang menggambarkan tokoh suci, secara bahasa berasal dari bahasa jawa “Mapan ing kang Siji” yang artinya “Tetap Tertuju pada Allah” yang kedua adalah Samba memiliki karakter seperti anak – anak yang lucu, ceria, serta gesit. Lalu yang selanjutnya adalah Rumyang pada pementasan ini penari mengkomunikasikan sebuah masa di mana seorang anak telah tumbuh menginjak remaja. Selanjutnya adalah Tumenggung dalam pementasan ini penari menggambarkan seseorang yang penuh dengan karakteristik serta tegas dalam bertindak. Dan yang terakhir adalah Kelana menggambarkan sifat angkara murka dengan memerankan tokoh yang jahat, yaaamacam antagonis gituh” Jelas Fira padaku.

Tentu aku terpana dengan penjabaran yang ia utarakan, ia menjelaskan tanpa melihat teks sedikitpun, kini aku sadar walau terlambat menyadarinya, aku bersyukur di pertemukan dengan teman – teman yang sangat luar biasa.

“Kau ini hebat sekali, sebenarnya ini acara apa? Untuk apa?” Tanyaku penasaran

“Ini adalah acara rutin himpunan mahasiswa seni di kota ini, tujuan nya tentu saja agar masyarakat terutama anak muda bisa melek seni, acara puncak nya minggu depan macam pagelaran kolosal, di samping itu kita adakan pameran dan bazar yang hasilnya nanti kami gunakan untuk pembangunan sanggar teater seni di daerah ini” balas Fira

“Termasuk biaya untuk ini?” tanyaku

“Begitulah, tapi tentu kita ajukan proposal” Jawabnya dengan nada terkekeh

“Jujur aku bersyukur kau ajakku kesini Fir” ucapku terharu

“Makanya jadi orang tuh jangan mulu di kamer” ledek Fira

Yang ku balas hanya senyum, ku lalui waktu dengan ikut berbaur di dalam nya menanyakan apa yang menjadikan ku penasaran, tentang kewajiban, keinginan, dan tujuan. Senyum tulus mereka sedikit membuat ku lupa akan beban hidupku yang penuh dengan target dan pencapaian yang tak henti – hentinya mengundang perang dalam batin ini, aku belajar tentang kesederhanaan sebuah pencapaian, yaitu sebuah kemanfaatan, dan kini ku akui kemanfaatan mungkin sederhana tapi dampaknya sangat luar biasa, hingga beberapa hari kedepan aku turut andil menyukseskan acara pagelaran itu, perlahan ku pelajari beberapa tarian nusantara, aku selalu terpanah saat melihat kawanku yang masih kecil mampu membawakan tarian Topeng itu, dengan lenggak lenggoknya, patahan kepala nya, gemulai tangannya membuat ku selalu merasa di beri kejutan.

Baca juga  Benih-benih Pendekar Pena Mulai Bermunculan

Hingga tibalah saat – saat yang menegangkan, mempersembahkan apa yang telah kami persiapkan sebelumnya dengan waktu yang cukup lama yang bukan hanya menyita waktu istirahat kami, di belakang panggung kami gelisah, jantung kami berdegup kencang, perlahan kami saling menguatkan memberikan virus optimis akan keberhasilan yang akan kami raih berfikir banyak hal yang kami korbankan, baik waktu, pikiran juga tenaga. Dekor panggung di tata sedemikian megahnya, mempersembahkan kepada para pejabat daerah membuktikan adanya aset yang selama ini tersembunyi, aset yang tidak hanya memiliki nilai estetika namun juga harga diri bangsa.

Satu persatu para penari memasuki panggung berurutan menampilkan sebuah karya anak bangsa yang patut di pertahankan, selama pementasan aku duduk di depan menyaksikan persembahan yang tidak patut untuk terlewatkan, hingga sampai pada titik terakhir yang mempersembahkan akan nilai solidaritas, kerukunan, juga persatuan, aku di buat terharu olehnya, dengan gema musikalisasi yang amat meyentuh, di tutup dengan lagu Indonesia Pusaka membuat kesadaran ku akan mencintai Negeri yang amat indah dengan Pesona Budayannya, menyadari sedikit yang mengingatnya, sungguh air mata ini deras jatuh, membasahi hampir seluruh wajah, seketika rasa cinta pada negeriku kini tumbuh tertancap sangat dalam di relung jiwaku, bersemayam dengan tenang enggan melepasnya.

Kami menangis bahagia acara berjalan dengan lancar juga mendapat apresiasi yang luar biasa dari pemerintah, menanggapi serius usaha kami untuk memajukan seni daerah ini, berencana membangunkan sanggar dan musium seni di daerah yang kini kami pijak, teriak bahagia juga haru mewarnai lokasi, ya saat ini juga, acara di tutup dengan saling menjabat tangan dengan rasa bangga.

Sore hari, saat dengan hangatnya senja menyapa, Ku duduk di tepi balkon tepat sebelah kamarku sembari memandang langit yang indahnya kian tak tertandingi, ku ukir pena mendongengkan apa yang baru saja ku alami, tentang solidaritas, loyalitas, juga moralitas. Bukanlah pencapaian sejati yang tinggi jika yang merasa hanya diri sendiri, akan lebih elok nan bahagia jika kesuksekan bisa kita raih bersama dan berdampak pada kesejahteraan di sekitar kita.

Di ujung kota kecil, ku temukan aset yang entah berapa berharganya, dengan ini aku sadar, kemapanan yang ku punya kelak tak akan berimbas jika tak bermanfaat untuk orang lain, agama dan negara. Belajar dari seseorang yang mengenakan topeng, rela menutupi jati diri seseorang itu sendiri, hanya untuk membuktikan betapa berharganya aset yang kita miliki, tanpa peduli siapa di balik itu dengan tujuan apa yang mampu di beri tanpa terbeli. Ditemani senja yang kian temaram, ku lukis langit dengan harapan akan kebermanfaatanku kelak.

 

*Naziatul Khomsah (PI. III)

 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *