Menjadi mahasiswa memang terkesan istimewa di mata masyarakat, terutama pada masyarakat dikampung halaman sendiri. Ia akan dipandang terhormat oleh tetangga sekitarnya. Tapi realita selalu tak sama dengan ekspektasi.

Dibalik sisi eksistensinya, mereka harus mampu untuk berlatih mandiri termasuk dalam hal ekonomi. Apalagi jika kuliahnya diluar kampung halaman dan merantau diluar pulau, sudah pasti kehidupan keras akan sangat terasa.

Seperti halnya Yeyen, mahasiswa rantau dari Probolinggo jurusan Al Ahwal Assyakhsiyyah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) ini, selalu mencari peluang untuk meminimalisir pengeluaran setiap bulannya. Salah satunya dengan mengikuti seminar-seminar gratis yang diadakan oleh kampus. Dengan begitu, ia bisa mengganjal perutnya meskipun hanya sepotong roti.

Selain itu, ada lagi cara yang bisa dilakukan agar uang tetap tebal dikantong. Yaitu mencoba jadi panitia kegiatan. Dipercaya menjadi panitia dalam suatu kegiatan kampus menjadi peluang yang tepat agar memperoleh “jatah panitia”, yang pastinya tak sekedar roti sepotong.

Bukan karna kiriman wesel yang kurang, atau dikira mahasiswa yang cuma mikir perut. Tapi demi kebaikan masa depan maka keluar dari zona nyaman adalah pilihan. Out of the box!

 

Aktif  : Giat, Sibuk                                               Fish   : Makanan

Aktif-fish : Mahasiswa yang giat mencari makan dengan buged minim.

(Tyas Artma/KPI.III)

Baca juga  Teater Goesti Membangun Relasi Sesama Seni dan Menampilkan Monolog "Aku Tak Bernama"
Kiriman serupa