29 C
Bandar Lor
Selasa, April 16, 2024

Skizofrenia; Gejala Gangguan Jiwa yang Memprihatinkan

Gangguan terhadap jiwa manusia merupakan hal tidak diinginkan oleh siapapun. Gangguan jiwa seperti hal nya sakit pada fisik bisa dibedakan menjadi parah dan lumrah. Ketika sudah parah maka manusia akan melakukan diluar kebiasaanya sampai menganggu seluruh hidupnya.

Gangguan jiwa lumrah terjadi seperti stres, kehilangan motivasi, malas, dll. Gangguan ini biasanya muncul karena banyaknya tuntutan dari luar maupun dalam diri manusia itu sendiri. Dari luar seperti keadaan Era sekarang, dimana perkembangan teknologi sudah  semakin canggih ibarat kapal yang berlayar lepas tanpa bisa dihalang-halangi untuk berhenti.

Ketika manusia tidak siap menghadapinya maka akan muncul depresi dan perasaan menyerah. Depresi akibat perkara ini jika dibiarkan saja maka akan lebih parah sampai mempengaruhi masa depannya

Skizofrenia merupakan satu dari berbagai macam gangguan jiwa. Gangguan ini terjadi orang mengalami halusinasi dengan tingkat yang berlebihan. Halusinasi ini disebabkan oleh otak manusia yang terlalu over dalam memikirkan sesuatu.

Baca Juga:  Dilema Ketika Malam Tiba

Akbibatnya seperti mendengarkan sesuatu yang tidak nyata, merasa ada yang mendekatinya saat sendiri, tiba tiba marah sendiri, terlalu curiga pada orang lain, dll. Gejala skizofrenia dapat mengakibatkan gangguan juga terhadap proses peradaptasian seseorang dengan lingkunganya. Karena dari pada ngobrol dengan orang lain biasanya ia terlalu sibuk dengan pikiranya sendiri hingga kesusahan untuk mengaturnya. Orang lain pun terasa terabaikan, hingga merasa orang itu sombong.

Penderita Skizofrenia memiliki imajinasi yang begitu aktif hingga menghadirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Kasus ini mungkin juga disebabkan oleh overthinking dan perfeksionis. Akan tetapi belum tentu yang memiliki sifat itu termasuk kedalam gangguan skizofrenia.

Di Indonesia sendiri kasus Skizofrenia dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan sebanyak 6,7 per 1000 rumah tangga menyidap kasus ini. Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofreni.

Baca Juga:  Bekal bagi Sang Pendidik

Dari data diatas sebanyak 84,9% pengidap skizofrenia di Indonesia telah berobat. Namun, Tercatat sebanyak 48,9% penderita psikosis tidak meminum obat secara rutin dan 51,1% meminum secara rutin. Sebanyak 36,1% penderita yang tidak rutin minum obat dalam satu bulan terakhir beralasan merasa sudah sehat. Sebanyak 33,7% penderita tidak rutin berobat dan 23,6% tidak mampu membeli obat secara rutin. Yang lebih parah lagi adalah 14 % penderita Skizofrenia ternyata dipasung oleh keluarganya. Mereka diikat kepala, leher, kaki, tanganya dengan rantai.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah penyakit jiwa skizofrenia bisa disembuhkan? Sementara ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan secara total, tetapi terdapat pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengendalikan dan mengurangi gejala sehingga penderita bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar layaknya orang normal. Cara tersebut diantaranya adalah dengan obat-obatan, psikoterapi, terapi elektrokonvulsi, dll. Pengobatan ini akan membantu pasien untuk menenangkan diri mereka ketika imajinasi yang kelaur semakin tidak terkontrol.

Baca Juga:  ETIKA MAYORITAS DALAM BINGKAI PLURALISME

Komunikasi yang terjalin dengan baik juga menjadi pengobatan dan pencegahan yang baik terhadap gangguan jiwa ini. Komunikasi terhadap keluarga, orang sekitar, lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap individu dalam melihat realitasnya  komunikasi untuk menerima diri, tidak membandingkan diri dengan orang lain akan berakibat positif pada seseorang sehingga dapat menjauhkankan dari penyakit ini.

Penulis : Fahmi

Editor : Afwan

Mungkin Terlewat

Stay Connected

15,334FansSuka
1,332PengikutMengikuti
7,578PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Trending