31.5 C
Bandar Lor
Selasa, April 16, 2024

Peran Ganda Santri dan Mahasiswa; Emotional Overwhelmed

Sebagai santri zaman now, dituntut tidak hanya bisa melakukan telaah ilmu keagamaan seperti membaca kitab kuning, hafal kaidah nahwu sharaf, memahami paradigma ilmu fiqh dan sebagainya. Intinya, perlu menghadapi tantangan zaman dengan bekal pendidikan, pengalaman dan mengikuti perkembangan teknologi kekinian. Bekal tersebut menurut KH. Anwar Iskandar perlu diupayakan sebagai alat yang digunakan untuk memikirkan eksistensi agama di masa depan.

Begitupula sebagai mahasiswa, persaingan global yang semakin ketat ‘seharusnya’ membuat mahasiswa tidak leyeh-leyeh dalam menempuh studinya. Mirip-mirip dengan santri, mahasiswa juga digadang-gadang kelulusan(keahliannya) sebagai Agent of Change yang mampu memberikan kontribusi yang berarti pada negeri.

Prof. Dr. Zakiah Daradjat dalam bukunya “Ilmu Jiwa Agama” memaparkan psikologis pemuda-pemudi kampus (mahasiswa), bahwa mereka bukanlah anak-anak yang dapat dinasehati, bukan pula orang dewasa yang dapat dilepaskan untuk bertanggung jawab sendiri atas pembinaan pribadinya, tapi mereka adalah orang-orang yang sedang berjuang untuk mencapai kedudukan sosial yang mereka inginkan, dan bertarung dengan bermacam-macam problema hidup untuk memastikan diri, serta mencari pegangan untuk menenteramkan bathin dalam perjuangan hidup yang tidak ringan.[1]

Hebatnya, santri zaman now telah meng-upgrade peranannya, selain menjadi santri, sebagian dari mereka juga merangkap studi menjadi mahasiswa. Mereka mondok sambil kuliah-hemat saya, semoga perspektif ini tidak terbalik. Begitulah saya melihat teman-teman seperjuangan. Kedua peranan ini selain menaikkan kredibilitas seorang santri, sekaligus mengharuskan seseorang memikul dua tanggung jawab yang sebenarnya cukup berat bagi sebagian orang.

Sebuah Risiko Perjuangan:Emotional Overwhelmed

Dimana harga sebuah kehebatan adalah tanggung jawab, orang-orang yang memiliki perasaan untuk harus bertanggung jawab, ambisius pada prestasi dan-apalagi perfeksionis, tentu semakin merasa bahwa tugas-tugas tersebut merupakan ancaman apabila tidak terselesaikan dengan baik dan sempurna. Tekanan pikiran ini bisa menjadi pemicu stres dan kewalahan emosional (emotional overwhelmed). Kewalahan emosional terjadi ketika intensitas perasaan melebihi kemampuan seseorang untuk mengelolanya.[2] Biasanya, perasaan kewalahan ini muncul saat tugas-tugas menumpuk, bersamaan dengan faktor pribadi seperti masalah keluarga, finansial yang sedang berantakan, disharmoni dengan pasangan, maupun pertemanan yang sedang menyebalkan.

Baca Juga:  Keberagaman Indonesia Dalam Status Gawat

Kesibukan menjadi santri sekaligus mahasiswa seringkali menjadi biang keluhan teman-teman yang mengatakan “rasane utekku arep mbledhos”(rasanya otakku mau meledak). Sebagai peminat psikologi, saya mempelajari bahwa jauh dibalik perkataan tersebut, ada banjiran emosi negatif yang mungkin berupa kecemasan, ketakutan, kemarahan, kepanikan, insecurity, dan sebagainya. Disamping itu, rasa overwhelmed ini biasanya menyebabkan seseorang merasa lelah tanpa sebab, murung, sulit fokus, gelisah, sulit tidur, masalah makan dan memunculkan reaksi berlebihan terhadap suatu kejadian. Saat mengalami overwhelmed, seseorang cenderung malas untuk mengerjakan sesuatu. Alih-alih mengerjakan tugas, mandi saja bisa ditunda sampai berganti hari. Apalagi kalau skripsi, besar kemungkinan terjadi prokrastinasi.

Kendati demikian, keadaan overwhelm umumnya memunculkan tiga respon; fight, flight or freeze. Misalnya, santri teringat bahwa hari ini harus setoran hafalan nadhom, tapi belum berhasil target dan ia juga ingat bahwa belum mengerjakan tugas kuliah yang pada hari itu deadline. Saat itu pakaiannya habis belum sempat mencuci, sayangnya antrian kamar mandi mengular tak berhenti. Maka dalam kondisi itu, ketika otak melihat ini sebagai ancaman, maka otak akan menyalakan salah satu dari tiga mode tersebut. Makanya, ada santri yang nekat menguras energinya berjuang habis-habisan dengan lembur, dopping energy dan sebagainya (fight), ada yang lari dari tanggung jawab, entah itu diam-diam bolos diniyah atau merelakan nilai mata kuliahnya kosong karena tidak mau mengerjakan tugas(flight). Tak jarang ada juga yang tiba-tiba blank gak bisa mikir dan memilih tidur(freeze). Relate, kan?

Pelukan untukmu yang Sedang Overwhelmed

Merasa kewalahan dalam beraktivitas, khususnya pada kita-santri yang merangkap menjadi mahasiswa, tentu hal yang lumrah terjadi. Namun hal ini tentu saja tidak boleh dibiarkan terlalu lama menjajaki hati. Kegiatan-kegiatan pendidikan baik di pesantren, sekolah, kampus,dsb. yang notabene positif, jika terlalu banyak justru menjadi permasalahan yang dapat menghambat kelancaran belajar.

Baca Juga:  Lingkungan Sosial, Kemiskinan dan Ketimpangan

Menurut Kiai Ulun (Triono, 2021), banyak orang modern yang gagal dalam menghadapi ujian hidup karena terlalu banyak dirundung masalah. Menurut ilmu kedokteran, sangat banyak masalah-masalah kesehatan atau penyakit yang bersumber dari pikiran sehingga akan mengakibatkan fisik ikut merasakan sakit dan menderita yang dalam ilmu psikologi, dikenal dengan istilah psikosomatis. Oleh karena itu, seseorang siapapun itu wajib memiliki manajemen diri yang baik; pandai mengatur waktu, self-control, self-leadership, dan sebagainya.

Santri dan mahasiswa adalah pengemban estafet perjuangan keilmuan, yang Allah janjikan untuk diangkat derajatnya sesuai QS Al Mujadalah:11, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”[3]

Meskipun tidak mudah, bukan berarti tidak bisa dilalui. Bahkan Rasulullah saw, manusia pilihan pun pernah mengalami hari-hari berat. Dalam QS. Al-Insyirah, Allah swt menceritakan bagaimana Nabi Muhammad memiliki beban hidup sangat berat. Namun, pada akhirnya, Allah memberikan solusi atau jalan keluar serta melapangkan hati sekaligus meninggikan nama Nabi Muhammad saw. Riset membuktikan bahwa tadabbur surah Al- Insyirah dapat menurunkan tingkat stress akademik pada mahasiswa. (Ansyah, Muassamah, & Hadi, 2019)

Baca Juga:  Remembering 350 Tahun Masa Penjajahan

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Nabi Muhammad), meringankan beban (tugas-tugas kenabian) darimu, yang memberatkan punggungmu, dan meninggikan (derajat)-mu (dengan selalu) menyebut-nyebut (nama)-mu?,  Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Apabila engkau telah selesai (dengan suatu kebajikan), teruslah bekerja keras (untuk kebajikan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah!.”

Sebuah kutipan yang ingin saya utarakan pada Anda:

“Please know that I’m right there with you and I care about you so much. We may not know each other, but I know what it is to feel absolutely overwhelmed and hungry for comfort – just like you.  You’re resilient. You’re tough. You’re resourceful.”
– Annie Wright, 2021

[1] Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta:PT Bulan Bintang, (1996)

[2] https://www.goodtherapy.org/learn-about-therapy/issues/emotional-overwhelm

[3] https://quran.nu.or.id/al-mujadilah#ayah11

 

Penulis Kontributor : Anti Natijatul Hikmah Mahasiswa UIT Prodi Psikologi Islam

Editor : Afwan

Mungkin Terlewat

Stay Connected

15,334FansSuka
1,332PengikutMengikuti
7,578PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Trending