LP2M.Corong- Matahari menjelang terbenam, ketika lampu-lampu mulai menyala menyinari tempat terbuka, disitulah WJ Kensis “Merdeka dengan sastra” berlangsung.

Selasa malam 20/08, bertempat di pinggir warung wong Java, menjadi saksi beberapa pemuda komunitas membunyikan sastra kemerdekaan.

Dengan dipromotori tiga rekan-rekan LPM (lembaga Pers Mahasiswa) Dedikasi Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Yaitu Gus Eko, Riyan dan Farkhan.

Inovasi-inovasi ini bermaksud ” ingin memperingati HUT RI, memunculkan bakat-bakat terpendam yang kurang terfasilitasinya dan kembali tali persaudaraan antar sesama manusia”, tutur Eko.

Seiring malam menjelang kopi mulai dingin dan menikmati makanan khas wong Java. Beberapa komunitas menampilkan bakat-bakat terpendamnya, yang tak bisa disalurkan di kampus.

Meski angin menghembus deras “Fokus utamanya, pasti untuk memperingati hari kemerdekaan RI yang ke-74. Dilain sisi, tanpa disadari dari para partisipan yang mengisi acara juga mengangkat isu rasisme yang meninmpa mahasiswa papua” tutur Farkhan.

Gitar mulai dipetik, alunan musik dan sound mulai bersuara, vokalis dadakan mengiringi irama, kompak dan melawan angin yang membawa kabar baik.

” Hitam Putih Keriting Lurus, Kami Papua
Hitam Putih Keriting Lurus, Kami Papua
Biar nanti langit terbelah, Kami papua
Biar nanti langit terbelah, Kami papua”, begitulah para pemuda serentak menyayikan lagu “Tanah Papua”.

Oleh :Ahmad Hidayatulah

Baca juga  Tak Melulu Turun Jalan, Teater Goesti Gelar Pentas Seni Untuk Palu
Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *