31.5 C
Bandar Lor
Selasa, April 16, 2024

Hujan di Kampus Pertiwi

Saat ini sekolah dimana mana tapi tidak dimana mana bisa sekolah. Apakah karena Sekolah itu harus ada tumbalnya? Apakah karena Mereka hanya mau menerima orang pintar? sedangkan yang bodoh? Seakan tak terlihat.

Saat Malam tiba ketika Puji hendak berbaring mengistirahatkan badannya, tiba tiba telfonya berdering. Ternyata ada Pihak perguruan tinggi yang menelfon memberikan kabar ke Puji bahwa besok Ia disuruh ke tempat perguruan tinggi untuk mengambil hasil tes masuknya. Sehingga Ia langsung bergegas bilang ke Ibunya untuk tidak ikut membantunya karena hendak mengambil hasil tesnya.

Esok harinya Puji bangun pagi pagi berharap ada kabar baik yang akan datang padanya. Saat merias diri di depan cermin Puji teringat perjuanganya sampai saat ini untuk bisa sekolah di Perguruan Tinggi. Ia sudah mengorbankan waktu, uang, tenaganya untuk bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi. Semangatnya untuk melanjutkan pendidikan sangatlah tinggi hingga hari itu Puji telah mendaftarkan dirinya sampai sembilan perguruan tinggi, namun satupun belum ada yang menerimanya. Dan inilah yang kesepuluh kalinya.

Dengan wajah gugup dan penuh harap Puji memasuki kantor perguruan tinggi : Permisi, Saya Puji yang mendaftarkan diri di perguruan tinggi ini.

Pengawas : Oh, mau ngambil hasil tes ya, silahkan duduk. Mbak Puji kesini bawa raport dari sekolah sebelumnya?

Puji : Bawa Pak. Dengan tergesa gesa mencari fotokopian rapot di dalam tasnya

Pengawas : Boleh saya lihat mbak Puji?

Puji dengan tangan gemetar menyerahkan rapotnya. Keringatnya terus keluar karena gugup dan takut jika pengalaman beberapa hari sebelumnya ia tidak diterima karena rapotnya jelek.

Pengawas : Sebentar ya Mbak Puji, kamu tunggu dulu disini. Saya carikan hasil tesnya sampean dulu.

Tapi sebelum terlihat mencari hasil tes, Puji melihat pengawas tersebut berbincang bincang terlebih dahulu dengan salah satu staf yang ada diperguruan tinggi itu. Ia kelihatan berdebat setelah melihat hasil rapotnya Puji. Itu membuat keringat Puji keluar semakin deras. Ia sangat berharap dirinya bisa mengenyam pendidikan di tempat itu, tetapi setelah melihat pengawas yang kelihatan berdebat setelah melihat rapot, akhirnya perasaan yang tidak ia inginkan datang. Ia akhirnya memejamkan mata dan berusaha tetap berharap kabar baik akan menimpanya. Tak lama kemudian pengawas itu kembali

Pengawas : Mbak Puji

Puji tidak mendengarnya karena masih memejamkan mata sembari berharap

Pengawas : Halo, Mbak Puji.

Panggilan yang kedua ini baru membuat Puji mendengar dan langsung menyautnya.

Puji : Iya, Bapak. Bagaiamana hasil tes saya? Apakah saya diterima di perguruan tinggi ini? Sya sudah sangat berharap untuk diterima bapak… Sautnya dengan mata berkaca kaca

Baca Juga:  Buletin Caraka Edisi Sastra

Pengawas dengan wajah datarnya tanpa menjawab langsung pertanyaanya Puji, langsung menyodorkan kertas.

Pengawas : Ini hasil tes kamu Puji, Jangan dibaca disini ya, nanti saja pas dirumah. Katanya sambil memberi kode ke Puji untuk segera keluar dari kantor perguruan tinggi.

Puji : Iya, Bapak. Terima kasih. Saya pamit.

Pengawas : Iya, Mbak Puji agak cepat ya, itu kasian dibelakang masih banyak yang antri.

Puji bergegas mengambil kendaraanya dan pergi meninggalkan perguruan tinggi itu dengan rasa penasaran yang begitu besar. Ia berharap Dua Tahun penantiannya untuk bisa masuk diperguruan tinggi bisa tercapai pada hari ini. Karena Ekonomi Puji juga tidak menentu, jadi ini kemungkinan menjadi akhir Puji untuk mendaftarkan dirinya keberbagai perguruan tinggi.

Tiba di salah satu perkampungan jalurnya ia pulang, Puji tiba tiba berhenti di depan Mushola, Ia tak tahan dengan rasa penasaranya. Otak dan hatinya terus memaksanya untuk segera membuaka isi tes itu. Perasaan campur aduk tentang harapan dan realitas dipertaruhkan dalam satu lembar kertas. Setelah itu Ia langsung memarkirkan kendaraanya dan lari ke serambi mushola untuk membaca hasil tesnya. Kertas amplop tersebut diambil dan disobeknya. Dan blaaa semua penasaran itu terpecahkan.

Matanya yang sebelumnya terbuka lebar karena rasa penasaran, berubah meredup karena tahu bahwa dirinya ternyata tidak diterima diperguruan tinggi itu. Rasa kesal menyelimutinya sampai ia tak tahan untuk membendung air mata. Tak lama kemudian, terdapat orang yang menghampirinya.

Orang : Permisi Mbak, ada yang bisa saya bantu? Kenapa mbak nangis begitu?

Puji langsung mengusap air matanya dan berusaha menutupi kesediahanya. Lalu orang itu memerhatikan wajahnya dan merasa seakan pernah melihatnya.

Orang : Loh, kamu Puji ya, Teman aku pas di sekolah SMP dulu?

Puji : Iya, kamu Sofa ya?

Orang : iya aku Sofa, yang pernah sekolah di SMP Pertiwi.

Puji : apa kabar Sof? Kamu sekarang tinggal disini ya?

Orang : Baik Puj. rumah ku samping mushola ini, kalau mau yuk kerumah ku, nanti kamu bisa cerita masalahmu di sana. Siapa tahu saya bisa bantu kamu…

Puji akhirnya pergi kerumah sofa, dan disana ia saling berbincang bincang

Sofa : kanapa tadi, kok kelihatanya sedih begitu?

Puji : kamu tahu kan? Saya itu dari dulu ingin sekali masuk diperguruan tinggi, tapi sampai saat ini saya sudah mendaftar ke sepuluh perguruan tinggi tapi semuanya tidak menerima saya.

Baca Juga:  Membunyikan Seni Untuk Tanah Papua

Sofa : Iya saya tahu, kamu itu meski tidak pernah juara tapi semangat kamu tinggi untuk belajar.

Puji : memang saya tidak terlalu pintar Sof. Tapi menurut mu, apa itu salah ketika saya tetap ingin belajar diperguruan tinggi?

Sofa tidak langsung menjawab pertanyaan Puji itu, tapi berusaha mengalihkan pembahasanya.

Sofa : Kemarin itu saya pergi ke tempat kakek saya, lalu pada sore hari tepat di pelataran rumah yang bagian depannya terbuat dari bata dan belakangnya terbuat dari kayu, saya melihat seorang perempuan muda mirip kamu bersama ibunya sedang memotong ketela. Saat itu cuaca sedikit mendung, tapi kelihatan mereka memotong ketela sembari membicarakan tentang perkuliahan.

Puji : Oh iya kah? itu rumah aku Sof, yang bicara itu aku sama ibu aku.

Sofa : Itu kamu sama ibu kamu… dengan ekspresi kaget Ia melanjutkan ucapanya : Jadi aktifitas kamu saat ini selain berusaha untuk bisa masuk diperguruan tinggi, kamu juga membantu orang tua mu?

Puji : Iya Sof, begitulah.

Sofa : keren sekali kamu, terus tentang perguruan tinggi itu kenapa kamu tidak mencoba daftar lagi saja?

Puji : kayaknya kali ini yang terakhir Sof, saya sudah sepuluh kali daftar dan semuanya ditolak. Yang kesepuluh ini uang saya sudah habis, jadi kalau seumpama nanti daftar lagi mungkin akan saya lakukan setelah ada uang lagi.

Sofa : Memang daftar diperguruan tinggi itu mahal Sof, saya juga merasakanya. Padahal kalau kita ikut pendaftaran itu belum tentu kita diterima juga, tapi bayarnya sudah pasti. Tapi kamu harus terus berusaha Puj, biar mereka tahu orang biasa seperti kita itu juga layak untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi.

Puji : Iya Sof. Kamu sekarang aktivitasnya apa?

Sofa : kalau saya karena sama kayak kamu, tidak diterima di perguruan tinggi, akhirnya saya memutuskan untuk membuka perguruan tinggi sendiri.

Puji : Perguruan tinggi sendiri?

Sofa : Iya, perguruan tinggi sendiri yang dapat menerima semua orang yang ingin belajar, bukan yang didasarkan pada kepintaran, perguruan tinggi yang fleksibel waktu pembelajaran bukan yang dituntut berdasarkan kurikulum, perguruan tinggi yang fokus untuk pengembangan murid bukan yang memanfaatkan murid, perguruan tinggi yang tidak perlu biaya.

Puji : haha, Kamu serius Sof, memang ada perguruan tinggi seperti itu?

Sofa : Kamu tidak percaya, besok kamu datang saja ke alamat ini, nanti kamu boleh gabung di perguruan tinggi ini.

Baca Juga:  Topeng Beraset

Sambil menyodorkan alamat, ia berbisik pada Puji (kamu tahu maksutku kan?)

Puji : Oke, besok kita ketemu disana Sof.

Esok harinya mereka bertemu di alamat yang telah diberikan oleh Sofa. Tempat itu terletak ditengah perkotaan. Di apit oleh bangunan bangunan besar yang menjulang tinggi. Tempat itu kecil terlihat seperti rumah biasa.

Puji : Permisi.

Tiba tiba Sofa keluar membawa Kopi, dan mempersilahkan Puji untuk duduk di ruang tamu.

Puji : Ini sof, yang kamu maksut kemarin?

Sofa : Iya, betul. Gimana menurut mu?

Puji : Hmm, tapi kalau aku seumpama gabung ini nanti belajarku bagaimana?

Sofa : Oh, tenang Puj. Perguruan tinggi ini saya buat untuk menerima orang orang yang tidak bisa masuk perguruan tinggi yang seperti tak tersentuh oleh orang seperti kita. perguruan tinggi yang diperuntukkan orang yang memiliki semangat belajar. Jadi Gini Puj, karena ini perguruan tingginya beda dan maka sistem belajarnya juga berbeda. Kamu bisa belajar apapun disini yang kamu minati, tapi ada peraturan yang harus dilaksanakan.

Puji : Apa itu Sof?

Sofa : Sebentar Puj, jangan tergesa gesa. Kamu lihat lihat dulu apakah perguruan tinggi ini cocok dengan kamu. Kalau cocok baru nanti saya jelaskan lebih detailnya.

Tiba tiba suasana dluar ruangan itu menjadi mendung. Sementara itu Puji masih mencoba mengelilingi tempat yang disebut Sofa itu sebagai perguruan tinggi. Dengan seksama Puji melihat satu persatu orang orang dan barang barang yang berada disana. Disela sela Puji pengamatan Puji, Sofa lalu menjelaskan lebih detarilnya.

Sofa : Jadi gini Puj, kamu kan memiliki cita cita untuk menempuh pendidikan diperguruan tinggi. Tapi saat ini kamu masih terbani oleh beberapa hal. Aku mau menawarkan ini padamu. Jika kamu mau saya punya tawaran pekerjaan dulu untukmu, yang itu nanti bisa membantumu masalah biaya. Ya, mungkin tidak sebenara Puj, tapi nanti kalau kamu tekun mengumpulkan bisalah buat masuk diperguruan tinggi.

Puji : Iya Sof, memang beginilah realitas kita, sekolah itu sekarang dimana mana tapi tidak dimana mana bisa sekolah. Sekolah itu harus ada tumbalnya. Mereka mau menerima orang pintar dan dijadikan makin pintar, sedangkan yang bodoh? Seakan mereka tak melihatnya.

Sofa : mari kita sebut tempat ini sebagai perguruan tinggi kampus pertiwi.

Cuaca mendung yang berada di luar tempat itu akhirnya meneteskan airnya ke bumi.

Penulis : Sokhikhul Fahmi Al Qoyyid

Editor : Afwan Setiawan

Mungkin Terlewat

Stay Connected

15,334FansSuka
1,332PengikutMengikuti
7,578PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Trending