Oleh : Fahriza Viyana Muzayanah

School For Home merupakan salah satu penetapan kebijakan untuk mencegah penularan virus Covid-19. Namun banyak dilema akan tantangan yang dihasilkan. Sangat tidak dipungkiri bahwa nilai keefektifan pembelajaran sangat minim. Transformasi ilmu pengetahuan dari seorang pendidik hanya dijadikan sebagai penuntasan kewajiban semata. Penanaman nilai moral dan akhlak secara langsung dari guru tentunya sangat tidak memungkinkan, karena sejatinya kegiatan pembelajaran tatap muka masih dilarang.

Maraknya penyebaran virus COVID-19 yang semakin meningkat menyebabkan semua aktivitas dilakukan dari rumah. Pemberlakuan keputusan pemerintah salah satunya mengenai School For Home adalah sebagai upaya dalam pencegahan penyebaran virus mematikan tersebut. Diliburkannya aktivitas pembelajaran secara tatap muka dalam satu lokasi di sekolah antara seorang guru dan murid tentunya juga akan menimbulkan beberapa dampak yang mengurangi keefektifan pembelajaran.

Tantangan Orang Tua

Dalam penerapan SFH ini tentu ada tantangan tersendiri bagi pelaku pendidikan. Tak terkecuali juga Wali Murid yang turut andil dalam membimbing proses pembelajaran anaknya. Khususnya pada jenjang tingkat pendidikan PAUD, TK, dan SD sederajat masih 80% melibatkan peran orangtua dalam hal ini. Seperti yang diungkapkan oleh seorang Psikolog Anak Seto Mulyadi, atau yang akrab disapa dengan panggilan Kak Seto tersebut menuturkan dalam sebuah acara virtual yang ditayangkan di channel CBCN Indonesia bahwa pendampingan bagi anak sangat perlu dilakukan untuk tetap dapat melangsungkan kegiatan belajarnya. Namun faktanya, pada realita sehari-hari banyak anak yang merasa bosan terhadap metode yang diterapkan dari kegiatan belajar dari rumah karena orang tua memang belum siap menjadi guru dadakan dalam situasi seperti ini. Akan tetapi tetap disarankan kepada orang tua untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dirumah dan sekolah mengembangkan kurikulum yang tidak berat agar tidak menekan psikologis siswa dirumah (CBCN Indonesia, 2020).

Tidak jarang juga ada tipe orang tua yang kurang tlaten dalam mendampingi kegiatan belajar anak, terkadang mereka ada yang merasa terganggu akan pekerjaannya masing-masing, sehingga akhirnya proses kegiatan ini tidak kondusif. Perlu di garis bawahi juga, bahwa tidak semua orang tua memahami betul tentang apa yang dimaksud dalam mata pelajaran yang sedang berlangsung, karena tidak semua orang tua mengenyam pendidikan yang setara. Oleh sebab itu, hal ini masih menjadi kendala karena peserta didik malah tidak ada yang membimbing selama mengikuti pembelajaran dari rumah (Zulfitria, Ansharullah, 2020). Hal itu juga disadari oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim ketika hadir secara virtual yang ditayangkan pada program acara Aiman di stasiun televisi Kompas TV. Beliau mengemukakan bahwa banyak orang tua yang cukup frustasi karena menjadi guru dadakan bagi anaknya. Akan tetapi, yang demikian tersebut juga dapat menimbulkan kesadaran bagi mereka juga tentang sulitnya proses belajar. PLT Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah, Hamid Muhammad juga membenarkan hal itu (Arifin, 2020).

Dilema Guru

Bagi seorang tenaga pendidik, pastinya juga tak kalah besar tentang tantangan yang dihadapinya dalam menjalani SFH ini. Hal tersebut dipicu karena dalam kondisi seperti ini seorang guru dituntut untuk bisa mengolah dan mendesain strategi pembelajaran melalui sarana media online yang sedemikian rupa agar proses belajar-mengajar tetap dapat berjalan, sehingga tercapai tujuan pembelajaran yang optimal. Sedangkan tidak semua guru mampu  menggunakan teknologi informasi dalam penerapan pembelajaran daring. Masalah ini tentunya merupakan salah satu faktor yang menjadi penghambat sekolah untuk memperbarui media pembelajaran. Padahal teknologi dapat digunakan untuk membuat kegiatan belajar mengajar saat ini agar menjadi lebih efektif, efisien, dan menyenangkan bagi peserta didik (Surahman, Santaria, & Setiawan, 2020).

Dari segi internal, banyak sekali murid yang jenuh terkait metode daring yang dirasanya sangat membosankan. Sebagaimana survey oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa mayoritas siswa di Indonesia mengaku tidak senang dengan kebijakan untuk belajar jarak jauh dari rumah ini (Firdausya, n.d.). Menurutnya, mereka merasa terbebani karena sekolah daring isinya hanya tugas. Selama ini tidak ada interaksi dari guru selain hanya memberikan dan menagih tugas.

Kurangnya interaksi fisik antara pendidik dan siswa dalam pembelajaran online juga dapat mengakibatkan kesulitan dalam mengerjakan tugas. Dalam realita yang sering ditemui, kebanyakan para tenaga pendidik memberikan tugas melalui via WhatsApp tanpa ada penjelasan materi yang signifikan sebelumnya. Tugas yang diberikan pun cenderung tidak sedikit dengan diberi durasi waktu yang cukup singkat. Seakan-akan peserta didik hanya dituntut untuk mengerjakan tanpa mendapatkan penjelasan terlebih dahulu, akibatnya banyak siswa yang mengeluh dan hilang semangat untuk mengerjakan tugas.

Kesulitan yang Dihadapi

Tak terlepas dari kegiatan SFH tentunya banyak sekali kesulitan yang dihadapi baik bagi guru maupun siswa. Dilansir dari Survei KPAI ada empat hal yang sangat berpotensi menyebabkan terganggunya proses SFH ini. Diantaranya yaitu, Tugas yang menumpuk karena guru yang lain juga memberi tugas, tidak adanya kuota internet, tidak memiliki peralatan yang dibutuhkan, dan juga durasi waktu yang sempit (KPAI R.N, 2021).

Siswa yang tidak memiliki gadget atau bahkan belum mengetahui banyak tentang penggunaan teknologi, sangat menjadi masalah yang tentunya dapat menghambat transformasi ilmu dari sang pendidik. Belum lagi jika terdapat masalah jaringan yang kurang memadai, jelas hal ini akan menghambat keaktifan anak dalam proses belajar secara daring.

Dari 1700 responden sebanyak 77,8% kesulitannya adalah tugas menumpuk karena seluruh guru memberikan tugas dengan waktu yang sempit. Sedangkan 37,1% responen mengeluhkan waktu pengerjaan tugas yang sempit, sehingga membuat siswa kurang istirahat dan kelelahan. Kesulitan selanjutnya sebanyak 42,2% menurut responden adalah tidak memiliki kuota internet. Selain kuota, ternyata 15,6% responden tidak memiliki peralatan PJJ yang memadai seperti laptop atau handphone yang spesifikasi memadai untuk belajar daring (KPAI R.N, 2021).

Problem Pendidikan Anak

Selain itu, akibat kurangnya interaksi langsung antara guru dan siswa akibat SFH ini, otomatis juga menyebabkan berkurangnya internalisasi nilai-nilai karakter yang seharusnya ditanamkan seorang guru kedalam diri siswa. Hal tersebut akan mengakibatkan degradasi moral pada anak. Karena sebenarnya tugas seorang guru bukan hanya sebatas mengajar saja, akan tetapi juga sebagai agen transforms of values. Dengan demikian sangat disayangkan apabila kebijakan SFH ini akan terus diterapkan.

Memang dalam masa pandemic seperti ini proses pembelajaran akan menemui banyak kendala sehingga dirasa tidak efektif dan kemungkinan tidak mencapai kurikulum yang ditetapkan. Meski demikian, pemangku kebijakan pendidikan tetap harus memikirkan masa depan siswa. Karena merekalah yang nantinya menjadi aset penerus bangsa. Jika pendidikan yang didapatkan tidak efektif, maka bagaimana nasib mereka kedepannya? Mungkin ada alternatif penggunaan kebijakan tersebut untuk dialihkan pada strategi lain, seperti misalnya pembatasan jumlah siswa yang masuk sekolah tatap muka dengan perombakan jadwal baru nantinya. Hal itu mungkin dapat diterapkan sebagaimana diberlakukan pada instasi perusahaan maupun perekonomian. Sehingga masa depan siswa tetap dapat berlanjut sesuai seperti yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, N. Z. (2020). Tantangan Belajar di Rumah, Dari Gadget Hingga Bayar SPP – AIMAN (Bag2). Jakarta. Retrieved from https://www.kompas.tv/article/79515/tantangan-belajar-di-rumah-dari-gadget-hingga-bayar-spp-aiman-bag2

CBCN Indonesia. (2020). kak-seto-kurikulum-belajar-di-rumah-jangan-bebani-anak @ www.cnbcindonesia.com. Retrieved from https://www.cnbcindonesia.com/news/20200605121420-8-163304/kak-seto-kurikulum-belajar-di-rumah-jangan-bebani-anak

Firdausya, I. (n.d.). Survei KPAI: Mayoritas Siswa tak Senang Pembelajaran Jarak Jauh. Retrieved from https://mediaindonesia.com/humaniora/307985/survei-kpai-mayoritas-siswa-tak-senang-pembelajaran-jarak-jauh

KPAI R.N. (2021). Survei Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Sistem Penilaian Jarak Jauh Berbasis Pengaduan KPAI. Bankdata.KPAI.Go.Id, 1. Retrieved from https://bankdata.kpai.go.id/infografis/survei-pelaksanaan-pembelajaran-jarak-jauh-pjj-dan-sistem-penilaian-jarak-jauh-berbasis-pengaduan-kpai

Surahman, E., Santaria, R., & Setiawan, E. I. (2020). TANTANGAN PEMBELAJARAN DARING DI INDONESIA Pendahuluan Pembelajaran daring adalah proses pembelajaran yang dilakukan. Journal of Islamic Education Management, 5(2), 94–95.

Zulfitria, Ansharullah, C. A. P. (2020). Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pendampingan Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19. Prosiding Seminar Nasional Penelitian LPPM UMJ, 2–6. Retrieved from https://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnaslit/article/view/8797/5152

Baca juga  Benih-benih Pendekar Pena Mulai Bermunculan
Tentang Admin

LP2M.Corong merupakan sebuah lembaga Pers yang berada di bawah naungan Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri.
lembaga ini mewadahi seluruh mahasiswa yang ingin mendalami ilmu pengetahuan tentang tulis menulis, meliputi berita, esay, opini dan berita.

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *