Aspek-aspek Bekerja Dalam Perspektif Islam

Dalam memenuhi kebutuhannya, setiap orang memiliki catatan panjang dalam hidupnya. Baik menyangkut kebutuhan primer, sekunder maupun tersier, seseorang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini tentu mengacu pada usaha dalam memenuhi kebutuhan masing-masing individu.

Secara luas, usaha yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya dikenal dengan istilah bekerja. Dalam hal ini, bekerja memiliki tujuan yang bersifat humanis, yakni pemenuhan kebutuhan manusia. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana bekerja dipandang dari kacamata Islam.

Jika kita menelisik lebih dalam kaidah atau ajaran-ajaran islam, maka islam sendiri adalah iman dan bekerja. Sedangkan dalam Bahasa al-qur’an berusaha atau bekerja biasanya disebut dengan ‘amal. Berkali-kali oleh al-qur’an kedua kata (iman dan ‘amal) disebut dan hampir selalu secara bersama-sama dilantukan dalam satu tarikan nafas. Salah satunya terdapat dalam ayat yang terkandung dalam surat al-‘asar : “الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ” (orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan).

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Dalam ayat al-qur’an ditegaskan bahwa manusia tidak akan mendapatkan sesuatu apapun kecuali apa yang di usahakan atau dikerjakannya sendiri.  Dengan begitu bekerja adalah eksistensi manusia hidup. Atau dengan Bahasa lain manusia adalah makhluk yang bekerja. Maka tidak heran jika kita sering mendengar akhirat sangat ditentukan dengan amalnya (perbuatan atau pekerjaannya) di dunia.

Aspek-aspek kerja dalam islam mengandung bentuk yang sangat luas, bisa bersifat fisikal, spiritual maupun intelektual. Islam menekankan bekerja atau berusaha untuk suatu kebaikan manusia dengan cara yang baik pula. Islam sama sekali tidak membenarkan cara cara yang haram untuk mencapai tujuan. Allah menjanjikan bagi siapa saja yang beriman dan bekerja dengan bijak maka Allah akan memberinya kehidupan yang baik (chayatan thoyyibah) . sebagaimana dijelaskan dalam surat al-kahfi {110} ; “siapa saja yang mengharap bertemu dengan Allah, maka hendaklah dia bekerja dengan baik dan tidak menyekutukan pengabdian kepada Allah dengan yang lain”. Sudah jelas bahwa bekerja adalah ibadah (pengabdian kepada Allah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.