LP2M.Corong- Berangkat dari maraknya isu faham aliran radikalisme, ekstrimisme, intoleran dan terorisme menggugah para mahasiswa terkhusus Warga Rayon Brantas untuk melakukan kajian lebih intensif, salah satunya adalah bedah buku pada (01-12-2019).

Bersama dengan M. Wazid Khusni, S.H selaku ketua umum PC GP Ansor Kota Kediri dan M. Muchlison, M. Pd. I selaku Dosen Filsafat IAI Tribakti dan di moderatori oleh Bachril Aziz S.Pd gubernur BEM FT tahun 2017-2018.

Menurut M. Kholis selaku Ketua Umum rayon Brantas menegaskan, bedah Buku ini kami angkat karena kami mulai melihat keadaan yang semakin mengancam, maraknya kaum milenial yang terkontaminasi dan terpengaruh faham radikal, sebelumnya BEM sudah pernah melakukan seminar dengan tema yang sama, dan kami beranggapan tidak cukup jika hanya berhenti dalam seminar saja, maka kami dan pengurus berinisiatif untuk melakukan pendalaman lebih, penggalian lebih soal radikalisme ini melalui diskusi kecil-kecilan yang melibatkan khalayak umum di kampus tercinta ini, kami berharap Tribakti yang notabennya Pondok pesantren dan berada di payung NU bisa menangkal faham aliran ini melalui diskusi ini”.

Bedah buku Literatur Keislaman Di Era Milenial yang di usung bertujuan untuk dijadikan bahan kajian para masyarakat kampus IAI Tribakti dalam rangka menangkal faham aliran redikalisme yang di anggap sering melakukan tindakan ekstrimisme, kekerasan, dan memaparkan doktrin soal pendirian negara Khilafah islamiyah, terlebih menolak ideologi Pancasila.

Menurut Ahmad Fazrul Falah selaku ketua pelaksana memaparkan dalam sambutannya “bedah buku ini berangkat dari pada keresahan masyarakat pengurus rayon brantas soal maraknya penyebaran faham aliran ini, kami melihat media sudah di jadikan rumah sentral bagi kalangan ini, bahkan tidak hanya itu, kami juga mulai menyadari bahwa penyebaran faham ini sudah menjalar di dunia pendidikan, beberapa peneliti sudah banyak menemukan bukti-bukti bahwa pendidikan pun mulai di susupi faham radikalisme ini”, jelasnya.

Baca juga  Hikmah Dibalik Kontroversi Kata Kafir vs Mawāṭīn

Maka dari itu seminar ini kami jadikan sebagai kajian yang berusaha menolak faham tersebut, ini adalah langkah deradikalisasi yang kian marak menyerang kalangan kalangan milenial saat ini, dan kami juga berharap bedah buku ini tidak hanya berhenti di gedung aula saja, melainkan kita sebagai kaum akademikus melanjutkan diskusi lebih intens di ruang-ruang yang lebih terbuka guna memberikan faham moderat dan nasionalis.

Menurut M. Muchlison selaku pemantik mengatakan “Buku ini akan memberikan peta faham aliran-aliran yang di anut, Secara umum, ada tiga kelompok radikalisme-keagamaan: 1. Kelompok yang mencita-citakan didirikannya negara Islam melalui tindakan-tindakan teror: JI, JAT, JAD. (INDONESIA SEBAGAI TOGHUT) 2. Kelompok yang mencita-citakan didirikannya negara Islam melalui penyebaran gagasan khilafah: HTI. (KHILAFAH SEBAGAI PANACEA). 3. Kelompok yang ingin mengimplimenetasikan syariat Islam sebagai hukum positif melalui tindakan-tindakan intoleran dan kekerasan: FPI dan berbagai organisasi keislaman lokal yang sejenis. (AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR DENGAN KEKERASAN)”

Namun di sesi lain beliau memberikan catatan seperti berikut Sekalipun setiap kelompok memiliki ideologi dan modus operandi masing-masing, namun dalam beberapa kasus, mereka bisa beririsan isu dan gerakan, atau saling memperkuat.

Dijelaskan juka soal Literatur Keislaman Generasi Muda Milenial di Pasar Bebas, pemantik membuat 5 aliran literatus keislaman masa kini. a). Literarur jihadi b). Literatur Tahriri c). Literatur Salafi d). Literatur Tarbawi e). Literatur Islamisme Populer.

Dan di akhir sesi pemantik memaparkan soal Respon fenomena Radikal, Pengguna media social yang memproduksi, menyebarkan, dan mengkonsumsi pesan radikal Laki-laki, Sarjana, Bertempat di Jakarta, Belajar agama dari buku-buku tentang sejarah Nabi, Madzhab fiqih, youtube dan tokoh agama di website organisasi Islam mainstream.

Baca juga  Memperkam Dan Kopri Hadirkan Khalis Mardiasih Dalam Seminar Keperempuanan

“Motivasi Pengguna Sosial Radikal, Manjadikan media social untuk mengkritisi pemerintah, Menjadikan media social untuk menghentikan HOAX, Menjadikan Media Social sebagai media dakwah, Website ormas Islam arus utama (NU dan Muhammadiyah) tidak menjadikan rujukan popular oleh pengguna media social  generasi milenial”, Jelasnya.

Di sesi lain pemantik M. Wazid Khusni, S.H juga memaparkan soal “peran sebagai kaum akademik dan masyarakat agamis yang moderat harus cepat-cepat melakukan konsolidasi kepada berbagai kalangan yang belum terpengaruh faham aliran ini, kita sebagai pemuda Nahdiyin dan pemudan yang menjunjung tinggi konsep ideologi negara kesatuan dengan Pancasila sebagai landasan ideologi Fundamenta negara, wajib bagi kita menjaganya, dengan Faham Moderatisme dan dengan pondasi Toleransi yang kita junjung dalam agama kita yakni islam”.

Kami dari kaum pemuda nahdliyin dan dibawah payung GP Ansor kota kediri, sudah melakukan hal tersebut, dengan cara melakukan pedekatan terhadap secara intens. Dengan cara melakukan pengajian-pengajian kecil seperti di cafe, transmat dan warung-warung kopi di daerah kediri. Dan tidak hanya itu, kami juga melakukan konsolidasi kepada tokoh-tokoh agamawan tenama seperti Gus-Gus (sebutan anak kiyai), dan beberapa kiyai yang memiliki pengaruh besar, ini bertujuan agar mempermudah jalannya menarik masa dan memberikan faham agama secara kaffah dan rahmatal lil alamiin.

Reporter: Rohimin (direktur LP2M Corong 2019-2020)

 

Kiriman serupa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *